the allure of tears
Sabtu, 13 Oktober 2012 | 08.00 | 4 comments
Pulang sekolah temen-temen saya pada mampir kerumah. Alesannya buat "copas" film horor yang ada di laptop. Berhubung saya nggak pernah nyimpen film horor, akhirnya rencana yang disusun gagal total dan beralih menjadi "cari film horor seadanya yang bisa di konsumsi di puluhan ragam channel tv kabel". Akhirnya kecantol sama channel celestial, dan itupun bukan film horor. Kebetulan film nya lagi nyeritain sesosok cewek pemain biola yang bikin konser tanpa bantuan alat pendengaran, denger alunan musik biola yang dia mainkan cuma pakai hati. Sempat tercengang juga sih karena konsernya keren. Saking penasarannya kami pun menunggu endingnya bakal gimana, eh tau-tau filmnya berubah alur. Munculah aktor dan aktris yang lagi ber-foto wedding ria. Muncul sekelebetan argumen di otak "filmnya kok nggak nyambung? apa film tadi endingnya sampe konser itu aja ya? apa ini emang lanjutannya? tapi pemainnya kok beda.". Berhubung filmnya makin lama makin bagus dicerna, semuanya jadi ketagihan nonton sampe ending cerita. Sedikit terkesampingkan, film yang tadi sama yang ini nyambung atau nggak.Well, memang bener nggak selamanya film ber-happy ending itu menarik. Sebaliknya pun juga ngga kalah menarik nya. Penasaran judul film itu, saya memutuskan untuk browsing di internet. Dengan mengandalkan nama tokoh dari film itu "Xiao Cai" yang saya tangkap dari rentetan nama cast pemain. Mungkin udah jodoh jadi gampang ketemunya hahaha
Chen Qiao En lah aslinya. Daan ternyataaa judulnya "The Allure of Tears". Fakta pertama yang saya temukan, film itu terbagi menjadi 3 seri dengan alur cerita yang berbeda-beda. Jadi wajar aja kalau setelah konser biola tadi alurnya langsung meloncat ke foto pra-wedding. Tapi khusus untuk seri 3 lah yang cukup berkesan.
shawn dou xiao-chen qiao en
Kalau dilihat dari fotonya memang mereka sepasang kekasih. Yang bisa dibilang penuh dengan lika-liku kehidupan. Dan yang pada akhirnya... Ya kalian bisa menikmati filmnya sendiri hohoho
Ini film China terbaik kedua yang pernah saya tonton setelah Aftershock. So you should watch this movie.
Label: act
